My First Glimpse at Mount Gede
Setelah lama tak mendaki, weekend kemarin saya dan
teman-teman Bolang berkesempatan pintong dari pantai ke Gunung Gede. Rombongan kami yang rata-rata first timer ini
ditemani beberapa kawan yang jauuuh lebih fit, haha seimbang kan. Sempat ragu
karena tiap mucuk pasti penyakit-penyakitku kambuh tapi demi melihat edelweis
jawa (ya, edelweis jawa beda yah sama edelweisnya sound of music, coba baca
artikelnya Slamet Soeseno) hayuk mari kita mucuk.
Waktu direncanakan hanya beberapa kawan Bolang saja yang ikut
ternyata menjadi 20 orang yang diurus simaksinya oleh bu admin Kimiie dan pak
RT Izul. Biarin deh, biar berasa kemping ceria. Kami berangkat dari meeting
point Semanggi dengan tronton jam 11
malam. Ya, tronton…hahaha memori ospek banget deh pokoknya. Sebelum lanjut ke
Cibodas, kami jemput dulu pak RT dan beberapa teman yang menunggu di Depok
bersama peralatan tim dan logistik yang dari penampakannya saja sudah berat
beut. Lalu cuss, berangkat ke Cibodas.
Trek menuju Gunung Gede ini sebetulnya ada tiga, jalur
Gunung Putri, Salabintana dan Cibodas. Cibodas dipilih karena treknya lumayan
ramah buat newbie kayak kita-kita ini. Kalau mau kesini untuk piknik saja pun
bisa, tinggal naik angkutan yang lewat Puncak, berhenti di pertigaan Cibodas
dan naik lagi angkot ke Pasar Cibodas. Penunjuk menuju kantor TNGP mudah dicari
dari sini. Tapi untuk pengunjung yang hendak mendaki biasanya beristirahat dulu
di warung-warung yang banyak terdapat disini sekaligus repacking carrier yang
kadang tidak nyaman di punggung. Kami beristirahat sebentar saja di warung
Budhe dan langsung mulai mendaki jam empat pagi setelah berbagi alat sewaan,
terlambat satu jam dari itinerary yang ditetapkan.
Untuk mendaki Gunung Gede ini diperlukan simaksi (Surat Ijin
Masuk Kawasan Konservasi), yang harus diurus minimum 3 hari sebelum pendakian
dengan mencantumkan fotokopi KTP yang masih berlaku. Hanya wisatawan asing yang
dapat mengurus simaksi ini on the spot, jadi siapkanlah simaksi beberapa hari
sebelum pendakian karena ada kuota maksimal jumlah pendaki yang ditetapkan TNGP
perharinya.
Awal perjalanan ini tidak terlalu berat buatku. Walaupun
setelah setengah jam berjalan asmaku kambuh, dengan dua dosis inhaler nafasku
sudah lega kembali. Terus berjalan
sampai pos Telaga Biru kami bertemu dengan berberapa pendaki yang beristirahat
maupun sholat subuh disini. Lanjut perjalanan melewati Rawa Gayonggong, pemandangan begitu cantik
disini. Rawa yang hijau rapat dilatari puncak Pangrango tepat sekali untuk
dijadikan lokasi foto.
Lanjut perjalanan lagi, aku bertemu trek favoritku disini.
Trek pendek yang melalui air panas dengan view Pangrango di depan mata.
Sebetulnya air panasnya tidak terlalu membahayakan, namun batu-batu tempat
berpijaknya ada yang licin dan goyah dan di pinggir view yang mengagumkan itu
jurang, jadi jangan terlalu fokus sama pemandangan ya, tetap fokus di mana kaki
berpijak.
Trek favoritku, air panas
Perjalanan selanjutnya tidak begitu ingat karena mulai capek
dan kaki yang salah menginjak batu pun mulai sakit, yang menghibur hanya beberapa tanaman yang bisa dijadikan
sasaran berburu-meramu. Hahaha, foraging ini memang mulai menjadi fokus
jalan-jalanku. Ketularan hebohnya Hugh Fearnly-Whittingstall yang hobi cari
makan sendiri. Karena jalannya cukup
hah-heh-hoh, yang tampak hanya pokpohan, lalabnya orang sunda dan buah berduri yang
aku curiga adalah sejenis kastanye/chesnut.
Setelah dibantu beberapa teman, sampai juga di Kandang
Badak, pos terakhir sebelum persimpangan Gede-Pangrango. Pfffiiuuuuh, ampun
dije… lama banget ngga naik ternyata ngaruh banget ya. Bahkan dengan banyak
istirahat pun tetap capek sekali. Rencana kami untuk nenda di Suryakencana pun
direvisi, beberapa teman sudak capek poll ditambah yang cedera ringan seperti
aku dan Fika tidak memungkinkan untuk terus jalan. Kami pun langsung mencari
tempat untuk buka tenda, karena hari ini bertepatan dengan pendakian masal
salah satu kampus membuat Kandang Badak penuuuh sekali. Tidak mendapat site
yang cukup untuk mendirikan 5 tenda, kami pun berpencar.
Sambil menunggu om-om mendirikan tenda, logistik mulai
dibongkar untuk diolah. Menu malam ini sayur sop dengan nugget dan sosis
goreng. Enak sekali sop buatan chef Fifi
dan sous chef Alin. Kami
makan bergantian lalu bersiap istirahat. Sedikit note buatku sendiri untuk
membawa perlengkapan tidur ekstra tebal karena dengan tambahan jaket, training,
sarung tangan, kupluk, kaus kaki tebal
dan dibungkus sleeping bag ternyata masih belum cukup. Aku terbangun
lagi dan menggigil kedinginan malam-malam. Untung dibantu pak RT dan pak RW yang
repot-repot menghangatkan kakiku yang dingiiiin sekali. Setelah hangat, tidur
pun dilanjut.
Setiap pergi trip ada sedikit rule tidak tertulis bahwa
siapapun yang ingin bangun pagi untuk hunting sunrise dipersilahkan bangun
sendiri dan tidak mengganggu teman yang tetap ingin melanjutkan tidurnya,
pengalaman buruk diomeli FX di Sangiang. Maka saat di luar tenda mulai ada
persiapan teman-teman yang hendak mendaki puncak Gede, aku juga bersiap tanpa
membangunkan kawan setenda. Yeaah, summit attack bareng Fai, Anez, Rahmat dan
Rizky. Tenda-tenda lain juga terdengar
mulai bersiap muncak seperti kami, kami membangunkan tenda Meity lalu langsung
mulai jalan ke puncak.
Setelah summit attack, kami sarapan dan bersiap packing
untuk pulang. Perjalanan pulang ini kunikmati betul, jalan yang menurun dan
santai membuatku bisa menikmati pemandangan. Bisa menikmati foto-foto sendiri,
foraging buah liar, menikmati anggrek spesies (suka pengen nampol kalo liat
anggrek beginian dijual di abang-abang), menghirup udara bersih sampai puaaaas.
Melihat ayam hutan, melihat monyet melompat, burung kecil tanpa ekor yang
melompat di tanah, mendengarkan suara-suara dan menebak primata apa yang masih
menjadi penghuni taman nasional ini. Menggali semua yang bisa kuingat tentang
taksonomi, hihihi… gak banyak ternyata.
Sight seeing yang menyenangkan at least sampai nyeri di
kakiku mulai terasa. Tapi dengan bantuan banyak orang akhirnya aku pun sampai
di warung Budhe, tempat singgah pertama kami kemarin. Truk tronton pun sudah
menjemput kami untuk pulang ke Jakarta, dan aku ke Bandung. Bye bye Gunung
Gede, I’ll be back Insya Allah. Sekarang sih, pulihkan kondisi dulu untuk
persiapan trip Pulau Perak minggu depan. Dan siapkan uang untuk ikut program
Adopsi Pohon di TNGP ini.
Overall walaupun
capek, sakit, malu sudah merepotkan banyak orang, aku tidak akan kapok naik
gunung lagi. Next time semoga keadaanku lebih baik dari saat ini. As my friend
says, naik gunung itu enak asal bersama orang yang tepat. Soooo, kapan kita ke
Papandayan?
Pi-es : banyak sekali kawan yang membantu etta di pendakian
kali ini, many thanks buat pak RT Izul, pak RW Oji, Tulang Lohod, Bang Djenghis, Fai, Anez,
deeeh perasaan semua ikut repot…maap ya kakaak…












Tidak ada komentar:
Posting Komentar