Sudah lama mendamba kemping di Pulau Perak, selain bisa
mantai semalam suntuk, juga katanya bisa latihan freedive disana. Mari kita
buktikan.
Selagi browsing untuk trip soloku ke Pulau Harapan, beberapa
kali masuk ke link tentang Pulau Perak (Sido, blog dirimu bikin ngiler niih).
Pulau kecil di dekat Pulau Harapan yang katanya indah dan dapat dijadikan
destinasi freediving karena pemandangan bawah lautnya yang relatif lebih indah
dari beberapa spot yang sudah aku kunjungi di kepulauan seribu. Setelah pulang
dari Pulau Harapan baru tahu ternyata ada kawan Bolang yang juga ingin kemping
di Perak, ahik ahik paaas banget.
Berbekal beberapa nama hasil browsing dan rekomendasi
kanan-kiri untuk mengurus trip kami kali ini, berangkatlah kami berdelapan
Sabtu, 16 November 2013. Peserta yang semula 14 orang, yang fix ikut hanya
Maul, Gilang, Mamo, Sherly, Karina, dengan tambahan Budi dan Jamba. Dari
belasan kapal ojek yang mangkal di Muara Angke, kami pagi itu berangkat dengan
kapal Milles tujuan Pulau Harapan, dengan tiket 40.000 sajah.
Sampai di Harapan langsung mencari kontakku disini, sayang
beliau belum sampai dan mengirimkan temannya Pak Jim yang akan jadi guide kami
selama di Perak. Menyiapkan makan siang dahulu di katering bu Jumroh, istri Pak
Udin yang pecel cuminya masih termimpi-mimpi sampai sekarang. Sekalian kami
minta disiapkan bekal nasi putih untuk makan malam dan aqua galon untuk minum
dan memasak. Setelah berganti kostum, kami pun berlayar di tengah hujan badai.
Yes, seperti kemarin hari ini pun hujan turun dengan buasnya. Tega banget sama
kami yang mau liburan ini. Hhhhh, pantang menyerah dong. Lanjut terus mencari
spot diving yg oke.
Sampai di spot pertama, pulau Dolphin, hujan sudah reda.
Sebetulnya di spot ini airnya masih keruh, sisa hujan barusan. Lalu ada sedikit
sampah di pinggir pantai yang bikin kami cepat-cepat berenang ketengah. Tapiii,
spot ini istimewa karena di sini kami bertemu jellyfish yang lumayan besar,
clownfish dan beberapa ikan kecil lain.

Bosan cibak-cibung di pulau Dolphin kami meminta spot yang
lebih ciamik ke Pak Jim, maklum pelaut…bosen dong kalau cuma lihat ikan
garis-garis aja. Spot kedua ini lebih dalam dan jernih, kawanan ikannya juga
lebih banyak. Tapi etta lupa ini spot namanya apa ya? Ada yang bisa bantu?
Selesai main air, akhirnya kami dibawa ke Gosong Warung.
Gosong ini beda banget sama gosong yang pernah etta kunjungi di Karimun Jawa
maupun gosong yang sama bulan kemarin. Lahh??? Hehe, sebetulnya sama aja ni
gosong, tapi pas di depannya berdiri sebuah warung portabel. Jadi kalo air
mulai pasang, pindahlah si warung ini ke kapal untuk pulang kembali kemanapun
rumahnya. Gimmicknya keren, gorengan rasanya beda kalo beli di gosong. Ya
iyalah beda, wong harganya dua ribu lima ratus perak sebiji…
Kami berfoto disini bergantian dengan rombongan lain, dengan
berbagai pose, walaupun Mamo ketinggalan. Jamba yang tingginya kayak tiang
listrik itu sukses dimintai foto bareng sama rombongan lain. Sayang kita lupa
minta saweran ya.
Pulau Perak nampak dekat sekali dari sini, cuma sepelemparan
batu, batu yang ditumpangin di pesawat remote. Kalau dilihat kayaknya sih bisa
berenang ke sana. Alhamdulillah, kita ga jadi berenang ke Perak ya Maul.
Kebayang kan kalo lagi ditengah laut gitu migren gue kumat. Stress kan
lu…hahaha…
Puas foto-foto di Gosong Warung, saatnya menyeberang dan buka
tenda di Pulau Perak. Setelah ngobrol sebentar sama Pak Minang soal ijin nenda
dan upetinya, jreeeng… dua tenda sudah berdiri rapih. Agak jauh sedikit cuma ada
satu tenda lain, kayaknya cuma orang nekat yang mau nenda di hari-hari hujan
gini.
Dari beberapa spot di Pulau Harapan dan sekelilingnya
termasuk Pahawang, Tunda,Sangiang, bahkan Karimun Jawa, ternyata justru di
Pulau Perak ini gue menemukan lionfish dan seafan yang tumbuhnya di tiang
dermaga!!!…no picture sih, batere udah abis dong. Dibilang hoax juga silakan,
ada Gilang yang sama-sama liat. Lang, back me up please…
Di pantai dekat dermaganya buanyuaaak bulu babi. Ehm, ini
salah satu tujuan gue loh. Dari rumah sudah siap bawa capitan panjang dan
sarung tangan buat panen salah satu seafood paling mahal sejagad raya ini.
Pungut satu, buang yang lain. Bulu babi yang kecil mungil macam di Santolo itu
mah gak bakal diangkut. Banyak pilihan bulbab yang lebih montok soalnya.
Dapatlah empat bulbab montok nan gondrong, sayang yang lain kayaknya bingung
mau makannya. Too bizarre ya guys? Enak loh.
Belanjaan kami yang seabrek (ehm, melimpah di beberapa item)
mulai dibuka dan ayam panggang mulai dipanaskan. Menu makan malamnya nasi, ayam
panggang dan sup makaroni. Sebetulnya kita bisa membeli ikan atau apapun hasil
tangkapan Pak Minang kalau kebetulan ada, tapi sepertinya ini sudah lebih dari
cukup. Makan malam yang nikmat banget,
di pinggir pantai pulau yang sepi, with good friends. Nasi pake garem juga
bakalan berasa enak, hahaha ngga mungkin ya. Baru mulai santai sehabis makan,
hujan rintik-rintik mulai turun, terus mulai rada gede. Kita masuk ke tenda
yang kosong, supaya bisa nongkrong bareng sambil main game. Sial banget segala
jenis board game dan kartu ga ada yang dibawa. Hujan mulai deras, dasar tenda
mulai dingin-dingin basah gitu. Sial nomor dua, meremehkan matras dan terpal
yang katanya ga perlu dibawa. Jadilah kami berbasah-basah, sesak karena tenda
ditutup, bengong pulak ga ada mainan…tidur aja deh.
Bangun pagi lihat keadaan yang sudah tidak hujan,
Alhamdulillah. Sebelum eksplor pulau, sikat gigi dulu ah. Kembali ke kamar
mandi nan mungil di tengah pulau. Kamar mandi ini khusus buat bilas-bilas
ringan aja ya, kalau mau pup as usual…gali lobang dong. Setelah cuci-cuci
dikit, langsung ganti wetsuit lagi. Waktunya main air. Eeeiiit, ingat dong
never freedive alone, always dive with a buddy? Nah, karena yang lain masih
belum nyambung nyawanya, aku turun cuma ditemani Maul yang (ceritanya) ngebuddy
dari atas dermaga. Please jangan dijitak, belum tau prosedur rescue yang bener
soalnya… tapi karena airnya masih keruh dan ombak yang lumayan gede, latihan
paginya cuma sebentar saja, lagipula sudah waktunya menyiapkan sarapan. Soal
masak-memasak ini, Bang Mamo jagonya. Kita (kita? Padahal cuma Sherly sama
Karina yang masak) yang cewek-cewek ini sih cuma terima order aja ni bahan mau
diapain, perlu segimana banyak, menunya perlu ditambah apa lagi. Pokoknya kakak
pertama Bolang ini seksi logistik andalan lah.
Sarapan sudah, packing sudah, pamit ke Pak Minang sudah,
cuss berangkat lagi. Walaupun angin dan ombaknya ngga nyantai, semoga masih
bisa main di satu spot lagi sebelum pulang. Dan kami pun dibawa ke pulau Kayu
angin Genteng. Aihhh, cantiknya pulau ini, etta jadi pengen kemping
lagi…disini. Latihan disini enak sekali. Lautnya cukup dalam, airnya jernih,
biota lautnya juga lumayan banyak. Foto underwater disini kayaknya bakalan
bagus banget. Bakalan ya, bakalan…seperti yang udah gw bilang dari kemarin
batere kamera underwater gue udah abis. Paling engga foto di dermaganya
bagus-bagus, daripada tidak sama sekali kan.
Selesai bernarsis ria, kami melanjutkan perjalanan kembali
ke Harapan. Matahari mulai terik, dan cuaca sepertinya memanggil kami untuk
extend trip. Sayang, kami harus tetap kembali ke Jakarta dan kembali nguli
untuk tetap membiayai trip-trip selanjutnya. Next time, Kayu Angin Genteng?
Macan?Putri?Sepa? who knows…masih 9.995 pulau yang belum dieksplor kaan. Soooo,
kapan kita kemana lagi guys?

